Halal Bihalal

28/08/2009 at 3:22 am (Silakan memberikan pendapat anda..)

Halal bihalal merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia. Sebuah tradisi yang meniscayakan beberapa tahapan, yaitu menahan amarah, memberi maaf, dan berbuat baik terhadap orang yang bersalah.

Al-Quran adalah kitab rujukan untuk memperoleh petunjuk dan bimbingan agama.  Ada tiga cara yang diperkenalkan ulama untuk memperoleh pesan-pesan kitab suci itu.  Petama, melalui penjelasan Nabi Saw., para sahabat beliau, dan murid-murid mereka.  Hal ini dinamai tafsir bir-riwayah. Kedua, melalui analisis kebahasaan dengan menggunakan nalar yang didukung oleh kaidah-kaidah ilmu tafsir.  Ini, dinamai tafsir bid-diriyah.  Ketiga, melalui kesan yang diperoleh dari penggunaan kosa kata ayat atau bilangannya, dinamai tafsir bir-riwayah.

Kajian ini  akan mencoba mencari substansi halal bihalal melalui al-Quran dengan menitikberatkan pandangan pada cara yang ketiga. Untuk maksud tersebut, tulisan ini akan berpangkal tolak pada beberapa istilah yang lumrah digunakan dalam konteks halal bihalal, yaitu Idul Fitri, halal bihalal, dan Minal ‘Aidin wal-Faizin.

Kata halal dari segi hukum diartikan sebagai sesuatu yang bukan haram; sedangkan haram merupakan perbuatan yang mengakibatkan dosa dan ancaman siksa.

Hukum Islam memperkenalkan panca hukum yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.  Empat yang pertama termasuk kelompok halal (termasuk yang makruh, dalam arti, yang dianjurkan untuk dtinggalkan).  Nabi saw. bersabda, “Abghadu al-halal ila Allah, ath-thalaq” (Halal yang paling dibenci Allah adalah pemutusan hubungan suami-istri).

Jikalau halal bihalal diartikan dalam konteks hukum, hal itu tidak akan menyebabkan lahirnya hubungan harmonis antarsesama, bahkan mungkin dalam beberapa hal dapat menimbulkan kebencian Allah kepada pelakunya.  Karena itu, sebaiknya kata halal pada konteks halal bihalal tidak dipahami dalam bihalal pengertian hukum.

Dalam al-Quran, kata halal terulang sebanyak enam kali. Dua di antaranya pada konteks kecaman, yaitu:

Katakanlah, ”Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.  Apakah Allah telah  memberikan izin kepadamu ataukah kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (QS Yunus [10]: 59)

Janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.  Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung.  (itu adalah) kesenangan sementara yang sedikit, dan bagi mereka siksa yang pedih (QS AL-Nahl [16]: 116-117).

Kesan apakah yang dapat diperoleh dari ayat ini? Paling tidak, terdapat kecaman terhadap mereka yang mencampurbaurkan antara yang halal dan haram.  Jika yang mencampurbaurkan saja telah dikecam dan diancam dengan siksa yang pedih, lebih-lebih lagi orang yang seluruh aktivitasnya adalah haram.

Empat halal lainnya yang tersebut dalam al-Quran mempunyai dua ciri yang sama, yaitu dikemukakan dalam konteks perintah makan (kulu) dan Kata halal digandengkan dengan kata thayyibah (baik).

Perhatikan keempat ayat berikut:
1.  Kuluu mimma fil ardhi halalan thayyiban (Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi) (QS. Al-Baqarah [2]: 168);

2.      Wakuluu mimma razaqakumullah halalan thayyiban…(Dan makanlah makanan yang halal lagi baik, dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu) (QS. Al-Ma’idah [5]: 88);

3.      Fakuluu mimma ghanimtum halalan thayyibaan (Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu) (QS. Al-Anfaal [8]: 69);

4.      Fakuluu mimma razaqakumullahu halalan thayyiban (Maka makanlah halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu) (QS. An-Nahl [16]: 114).

Kata makan dalam al-Quran sering diartikan “melakukan aktivitas apapun.” Ini agaknya disebabkan karena makan merupakan sumber utama perolehan kalori yang dapat menghasilkan aktivitas. Dengan demikian, perintah makan dalam ayat-ayat di atas bermakna perintah melakukan aktivitass, sedangkan aktivitasnya tidak sekedar halal, tetapi juga harus thayyib (baik).  Nah, jika dikembalikan pada empat jenis halal yang diperkenalkan oleh hukum Islam, maka yang makruh tidak termasuk dalam kategori halalan thayyiban.

Al-Quran menyatakan secara tegas cinta Allah (Innallaha yuhib) sebanyak delapan belas kali, yang dapat dirinci sebagai berikut:

–         Masing-masing sekali untuk at-tawabin (orang yang bertobat), ash-shabirin (orang-orang sabar) dan shaffan wahida (orang yang berada dalam satu barisan/kesatuan);

–         Masing-masing dua kali terhadap al-mutawakkilin (orang yang berserah diri kepada Allah) dan al-mutathahirin (orang-orang yag menyucikan diri);

–         Masing-masing tiga kali terhadap al-muttaaqin (orang-orang yang bertaqwa) dan al-muqsithin ( orang yang berlaku adil), dan lima kali terhdap al-muhsinin.

Kesan yang ditimbulkan oleh angka-angka itu paling tidak mengisyaratkan bahwa sikap yang paling disenangi  oleh Allah adalah al-muhsinin (orang-orang yang berbuat baik terhadap mereka yang pernah melakukan kesalahn).  Hal ini sesuai sekali dengan perintah al-Quran untuk melakukan perbuatan halal yang baik, tidak sekedar perbuatan halal (boleh, tetapi tidak menghasilkan kebaikan).

Dalam al-Quran surat Ali-‘Imran ayat 134 diisyaratkan tingkat-tingkat terjalinnya keserasian hubungan;

Mereka yang menafkahkan hartanya, baik pada saat keadaan mereka senang (lapang) maupun sulit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan orang-orang yang bersalah (bahkan berbuat baik terhadap mereka).  Sesungguhnya Allah menyukai mereka yang berbuat baik (terhadap orang yang bersalah).

Di sini terbaca bahwa tahap pertama adalah menahan amarah, tahap kedua memberi maaf, dan tahap berikutnya adalah berbuat baik terhadap orang yang bersalah.

Demikian sedikit dan banyak kesan yang dapat diperoleh dari ayat-ayat al-Quran berkaitan dengan halal-bihalal/maaf memaafkan.

Sumber :
Disunting dari buku “Wawasan al-Quran” karya M. Quraish Shihab, yang diterbitkan oleh Mizan.

Advertisements

Permalink Leave a Comment

Sejarah Ramadhan

24/08/2009 at 4:53 am (Silakan memberikan pendapat anda..) ()

Assalamu’alaikum Wr. Wb..

1) Ramadhan: artinya panas terik

2) Bulan diturunkan Al-Quran dan disebut (syahru ramadhana)

3) Terjadinya perang Badar Kubra dan mendapat kemenangan.

4) Bulan dimana nabi mengambil alih Mekah dari tangan Musyrikin dan berakhirnya penyembahan berhala.

5) Didalamnya dipilih ada malam al-qadar yakni lebih baik daripada 1000 bulan.

6) Dipilih untuk ibadat puasa.

7) Dipilih untuk ibadat-ibadah lain (tadarus Al Quran)

KELEBIHAN BULAN RAMADHAN

1) Kamu akan di naungi Ramadhan. (bagi yang telah meninggal dunia terlepas dr siksa kubur)

2) Bulan penuh keberatan

3) Di malamnya ada lebih baik daripada 1000 bulan

4) Amal sunat sama dengan solat fardhu

5) Manakala solat fardhu mendapat 70 kali lipat ganda

6) Bulan sabar dan pahalanya adalah syurga

7) Bulan menambah rezeki

Memberi buka puasa banyak pahala

9) Bulan ampunan – doa yang paling makbul iaitu doa sebelum berbuka puasa. – juga doa pada sepertiga malam.

10) 10 hari pertama adalah mulanya rahmat, 10 hari pertengahan – pengampunan, 10 hari terakhir – kemerdekaan api neraka.

AMALAN-AMALAN DI BULAN RAMADHAN

1) Mengucapkan Selamat Menyambut Bulan Ramadhan

2) Menyiapkan pakaian untuk Ramadhan[untuk solat] 3) Niat puasa sebulan pada permulaan Ramadhan[dikawatirkan ada hari yang terlewat tanpa niat]

4) Hendak tidur bacalah 4 ayat terakhir Surah Al Kahfi supaya dapat bangun malam

5) Berazam melakukan Terawih

6) Bertadarus secara bersemak (bukan sendirian)

7) Solat berjemaah setiap waktu

Solat jemaah di masjid/surau

9) Amalkan Qiyamulail walaupun pendek

10) Sahur diwaktu akhir

11) Sahur – untuk mengelakkan pada siang tdk terlalu payah, elakkan makanan pedas dan tutup sahur dengan air susu

12) Mandi Janabat sebelum Imsak

13) Kurangi tidur

14) Tunaikan Solat sunat fajar (Solat Sunat Subuh)

15) Tunaikan Solat Dhuha

16) Tidur waktu luang (satu jam sebelum Zohor)

17) Tunaikan solat Rawatib

18) Jaga pancaindera

19) Elakkan gosok gigi pada waktu petang

20) Hadiri majlis ilmu

21) Berbuat baik pada ibubapa

22) Isteri hendaklah taat pada suami

23) Banyakkan bersedekah

24) Berbuka dengan 3 biji kurma dan air yang belum dipanaskan oleh api

25) Berbuka bersama orang tua

26) Undang tamu berbuka

27) Kurangi berat badan

28) Banyakkan i’tikaf di masjid (lelaki saja)

29) Perbaiki hubungan suami isteri

30) Perbaiki hubungan dengan tetangga

31) Isteri jauhi dari keluar memakai makeup dan perhiasan

32) Elakkan berbelanja berlebihan

33) Kuatkan kesabaran

34) Banyakkan selawat, istighfar, bertasbih

35) Berazam beramal (pada malam Lailatul Qadar)

36) Membangunkan anak dan isteri di mlm Lailatul Qadar

37) Elakkan menonton TV yang mengandung nafsu

38) Elakkan mendengar radio berunsur hiburan

39) Berdoa dengan nada lembut dan khusu’

40) Jauhkan bercumbu dengan suami/isteri siang hari

41) Mendoakan ibu bapa baik yang hidup atau yang meninggal dunia

42) Melazimkan solat tepat waktu

43) Elakkan sebelum berbuka berjalan jalan yang menjadikan pandangan liar

44) Elakkan banyak berhutang

45) Melepaskan perasaan sedih melepaskan Ramadhan ditakuti tidak bertemu lagi dengan Ramadhan akan datang

46) Tunaikan zakat fitrah

CARA BERAMAL DI MALAM LAILATUL QADAR (Malam 21-30):

1) Kepada Orang Tua Lemah

Cara beramal solat Maghrib, Isyak dan Tarawih berjemaah di masjid/surau, ini sudah dikira beramal Al Qadar

2) Orang yang tidak sanggup solat malam yang panjang

– Baca ayat akhir surah Al Baqarah

– Baca ayat Kursi

– Baca surah Yaasin

– Baca surah Al Zalazah

– Baca surah Al Qafirun

– Baca surah Al Ikhlas

3) Bagi orang yang kuat dan cergas

– Bangunkan isteri dan anak

– Mandi

– Solat malam – Tahajjud, Taubat, Tasbih, Hajat, Istikharah, dan baca Al-Quran

NUZUL Al QURAN ( 17 Ramadhan ):

– Tanggal turunnya Al Quran

– Beramallah di malamnya dengan solat malam dan amal2 yang baik

CARA MENYAMBUT HARI RAYA

– Jangan sekali-kali di sambut dengan hiburan, mercon, pesta lampu dan berbagai kemungkaran dan kemaksiatan

– Pada petang akhir Ramadhan orang-orang yang meninggal menangis karena peluang untuk berehat telah berakhir. Adalah dianjurkan keluarga menziarahi kubur pada petang akhir Ramadhan atau jika kuburnya jauh, hendaklah Dibaca doa Tahlil selepas solat Asar. Semoga mereka diampuni.

– Ibnu Abbas r. a pernah mengatakan bahwa roh orang yang meninggal dunia dibenarkan pulang ke rumah anak-anaknya dan berdiri di pintu rumah memohon belas kasihan dari anak-anak mengirimkan bacaan doa, sekurang-kurangnya Al Fatihah sekali untuk mereka

– Oleh karena itu janganlah terlalu gembira dan ingatlah orang-orang tua yang sudah meninggal, semoga nanti sampai giliran kita maka anak-anak akan ingat kepada kita.

TAKBIR DI MALAM HARI RAYA

Takbir sebenarnya mempunyai cerita. Menurut riwayat, bermula dari peperangan Ahzab. Peperangan terjadi di musim dingin, kemudian Salman Al Farisi menganjurkan supaya di gali parit (Khandak) di akhirnya peperangan ini diberi pertolongan oleh Allah dan kemudian direkamkan di dalam Takbir.

Kesimpulannya, Bulan Ramadhan datang setahun sekali dan ia sebaik2 bulan, penuh keberkatan, pengajaran, mendidik mempunyai ketahanan dan penuh dengan amalan2 untuk mendekatkan diri kepada Allah dan hubungan sesama manusia. Oleh karena itu bersiap sedialah dari awal supaya benar2 mengubah sikap yang baik dan seterusnya menjadi insan yang soleh/solehah. Semoga dipertemukan di Ramadhan yang akan datang.

Do’a untuk menghilangkan panas badan/masuk angin, maklumlah waktu lapar memang mudah masuk angin… . Rujuk pada Surah Al-Anbiyak ayat ke 69. Sebelum minum baca doa dan tiupkan pada air (untuk diri sendiri, anak, istri, suami dll). Insyaallah, coba amalkan.

Hanya ini yang saya tau… Wassalamu’alaikum WR. WB..

Permalink Leave a Comment